Senin, 14 Maret 2011

Revolusi Dunia Islam, Sebuah Kebutuhan


Terdapat sekelompok orang (Kaum Muslimin) yang menguasai sebuah wilayah yang di di dalamnya terkandung sumber daya alam yang tersembunyi. Mereka menguasai  rute jalur lintasan dunia. Tanah-tanah mereka tempat bertumbuhnya peradaban manusia dan agama-agama. Orang –orang ini memiliki satu agama, satu bahasa, satu sejarah dan memiliki kesamaan aspirasi. Tidak ada satupun penghalang fisik  yang menghalangi antara satu dengan yang lain. dan jika, sebuah kesempatan, mereka bersatu dalam sebuah negara, mereka akan memegang nasib dunia di tangannya dan juga akan memisahkan Eropa dari belahan bumi yang lain. Berdasarkan atas pertimbangan penting inilah sehingga sebuah tubuh yang asing mesti ditanamkan di dalam jantung bangsa ini untuk mencegah bersatunya sayap-sayapnya. Sehingga dengan adanya tubuh asing ini membuat mereka akan kehabisan tenaga dalam pertempuran tiada berkesudahan. Juga, akan menjadi lahan  bagi Barat untuk mendapatkan kepentingan-kepentinganya. (Henry Bannerman , Perdana Menteri Inggris 1906)

Henry Bannerman secara sederhana menggambarkan tentang potensi-potensi kekuatan yang mungkin muncul di wilayah Timur Tengah. Dimana kekuatan yang paling menakutkan adalah umat islam sebagai sebuah entitas yang memiliki potensi ideologis yang sangat kuat dan sangat menakutkan bagi dunia barat. Jika umat islam bersatu dalam sebuah kepemimpinan yang diikat oleh ideologi Islam maka secara pasti, umat islam yang akan menjadi pemegang nasib peradaban manusia. negara barat cepat mengetahui hal tersebut sehingga mereka juga cepat merespon langkah untuk menghadapi potensi-potensi tersebut. Berikut penjabaran potensi-potensi yang dimiliki umat islam secara ringkas dan bagaimana umat islam bisa menjadi umat yang bangkit dan maju dengan potensi tersebut.
Potensi  Kaum Muslimin
Umat Islam saat ini menguasai sekitar 72% cadangan Minyak Dunia dan memproduksi hampir 50%  per hari dari untuk  kebutuhan konsumsi dunia. Jauh melampaui Rusia, China, AS, dan negara-negara Eropa.  Cadangan gas  dunia yang berjumlah sekitar 175.36 triliun cum 61,45 % dikuasai oleh umat islam. Batubara, Uranium, Emas, dsb semuanya melimpah diwilayah-wilayah kaum muslimin.
Umat islam juga telah menguasai rute-rute perdagangan dan jalur minyak dunia yang sangat strategis. Hasil Riset Lehman Brother tahun 2008 memperlihatkan bahwa, Selat Hormus, selat Malaka, Terusan Suez, Bab-El-Mandeb, Selat Bhosporus, dan beberapa tempat di Timur Tengah menyuplai sekitar 62% kebutuhan minyak dunia. Laut Merah/Mediterrania yang berhubungan dengan terusan Suez dan Selat Gibraltar adalah jalur perdagangan internasional yang sangat penting. Laut mediterrania yang memisah antara benua Afrika dan Asia Barat ini menjadi jalur utama perdagangan dari negara-negara Asia menuju ke Eropa dan Amerika Utara. Sekitar 80% perdagangan internasional dari Asia diangkut melalui laut mediterrania.
Selat malaka juga telah menjadi rute perdagangan tersibuk saat ini. Kebangkitan ekonomi negara-negara Asia Timur   meniscayakan kebutuhan sumber daya alam yang besar utamanya pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah. Tahun 2006, sekitar 15.000.000 barel ber hari minyak dikirim melalui Selat Malaka ke China, Jepang dan Korea. Begitujuga Barang-barang ekspor dari Eropa, Timur-Tengah, dan Amerika Serikat jika mereka ingin masuk ke Asia Tenggara atau Asia Timur begitupun sebaliknya maka  rute terdekat adalah Selat Malaka.  Ini baru hitung-hitungan wilayah, belum lag potensi sumber daya manusia  yang berjumlah lebih dari satu miliar yang nanti akan menyokong pertumbuhan ekonomi dan militer yang pasti akan lebih menambah kekuatan umat Islam.)

Umat islam memang telah memiliki semua potensi-potensi geopolitik dan geo-strategis atau potensi kekuatan nasional yang besar tapi saat ini umat islam belum bisa memunculkan potensi-potensi tersebut dan bahkan “terkena kutukan sumber daya alam”. Menjadi miskin di negeri mereka yang kaya raya juga kediktatoran pemimpin-pemimpin mereka. Lantas kenapa hal tersebut terjadi?. Henry Bannerman menjawab, umat islam punya satu identitas yang sama dan tidak terhalangi yaitu islam. jika mereka bersatu dan menjadikan identitas itu sebagai penyatu mereka maka nasib barat akan berada dibawah kaum muslimin. Umat Islam dihambat untuk menyatukan ideologi mereka, Islam,  menjadi kesadaran bermasyarakat dan bernegara.
Organ Asing di tubuh kaum muslimin
Untuk mencegah kaum muslimin dari bersatunya aspirasi mereka maka organ asing mesti disusupkan untuk mengalihkan konsentrasi umat Islam. Organ asing bisa dipahami dengan dua hal. Yang pertama adalah Organ Fisik artinya, negara Barat telah memasukkan kaum Zionis, Israel dan mendukungnya di dalam wilayah kaum Muslimin agar konflik terus tercipta antara Israel dan umat Islam. Konflik tersebut tidak butuh untuk dimenangkan oleh Amerika Serikat.  Tujuannya hanyalah agar wilayah Timur-Tengah tetap berada dalam situasi yang panas agar mereka tidak bersatu dalam sebuah wilayah dan mendirikan kekuasaan Islam. Hal sama terjadi dalam konflik-konflik di Afghanistan, Irak, dan Pakistan. George Friedman dalam bukunya The next 100 years, a forecast for the 21st Century, ketika mengomentari kehadiran AS di wilayah Afganistan mengatakan,  “tujuan akhir  dari Amerika Serikat adalah untuk mencegah munculnya sebuah kekuatan utama di Eurasia (pertemuan  Asia Timur, Asia Selatan dan Eropa). Intervensi yang dilakukan AS di Amerika Serikat, apapun alasannya, sebenarnya bukanlah untuk meraih sesuatu tapi untuk mencegah sesuatu. AS ingin mencegah terjadinya stabilitas di wilayah-wilayah dimana kekuatan lain bisa muncul. Tujuannya bukan untuk menstabilkan tapi mendestabilisasi. Amerika ingin mencegah kebangkitan negara Islam yang besar dan kuat. Amerika tidak memiliki kepentingan apapun untuk didapatkan di wilayah itu. pun untuk memenangkan sebuah peperangan. Hanya satu tujuannya yakni untuk menghalangi sebuah kekuatan atau mendestabilisasi wilayah tsb”.    
Tubuh yang disusupkan oleh Barat yang ke dua adalah  organ non-Fisik.   Organ non-fisik ini adalah sebuah bentu invasi ideologis dimana Barat menyusupkan berbagai ide-ide yang asing bagi Islam untuk melemahkan umat islam dari Aqidahnya. Cara-cara ini telah terjadi di masa-masa perang salib. Para Salibis terheran-heran melihat kekuatan dan keberanian dari para pejuang kaum Muslimin dalam perang itu. Hingga mereka  bertanya, kenapa umat Islam bisa begitu kuat. Mereka kemudian menemukan jawabannya bahwa,  aqidah umat Islamlah yang menjadi akar dari kekuatan mereka. Saat itulah kemudian para salibis mengkaji tsaqafah atau ilmu-ilmu Islam, Sejarah, Tafsir, Fiqhi dan bahasa Arab. Dengan ilmunya itu mereka menghantam umat Islam melalui perang pemikiran. Sehingga akhirnya umat Islam semakin lemah. Krisis politik dalam negeri pun negeri terjadi.  Tahun 1924 umat islam telah kehilangan kekuatan utamanya yakni daulah Khilafah Islamiah. Kemudian dibagi-bagi oleh negara kolonial menjadi kurang lebih 53 negara, nation states.  
Saat ini perang pemikiran yang dilancarkan Barat masih tetap dilakukan melalui bantuan-bantuan pendidikan, pembiayaan organisasi-organisasi, LSM-LSM dan buku-buku yang diterbitkan. Mereka menyusupkan ide-ide liberal, demokrasi, kapitalisme dan nasionalisme untuk menghantam keyakinan umat Islam.  Tentunya tujuan akhir mereka agar umat islam semakin jauh dari aturan Islamnya dan mau mengadopsi hukum-hukum atau aturan-aturan sekuler Barat.  Agar umat islam tidak menjadi umat yang kuat keberislamannya dan Berislam secara kaffah
Umat Islam butuh Revolusi
Solusinya sudah jelas kalau kita ingin mengembalikan kekuatan umat islam seperti yang pernah terjadi selama 13 abad. Kita hanya menggunakan logika berfikir  Henry Bannerman untuk menjadikan umat Islam menjadi kekuatan raksasa dan maju. Yakni dengan mengembalikan kesadaran kaum muslimin tentang wajibnya sebuah kepemimpinan yang satu atas umat Islam dalam wujud Khilafah Islamiah dan memperlihatkan kepada mereka rusaknya pemikiran-pemikiran kaum kuffar Barat.  Umat Islam bisa terpecah-pecah karena umat islam sedikit demi sedikit menghilangkan kesadaran dan pemikiran Islam dari diri mereka. Oleh karenanya, satu-satunya cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah sebuah kelompok mesti hadir untuk melakukan penyadaran-penyadaran ke masyarakat hingga masyarakat paham tentang Islam dan Khilafah sehingga aspirasi umat Islam menjadi satu yakni penegakan syariah Islam secara sempurna dibawah naungan Khilafah Islamiah. Selama aspirasi umat Islam belum satu, yakni khilafah, maka yakin umat islam belum bisa berharap akan sebuah kebangkitan. Wallahu a`lam